
Jayapura — Unit Pelaksana Akademik (UPA) Kewirausahaan Universitas Cenderawasih (UNCEN) kembali menyelenggarakan ECO FEST 4 (Entrepreneurship Collaboration Festival) sebagai wadah pengembangan kreativitas, inovasi, dan jejaring kewirausahaan mahasiswa. Kegiatan ini menghadirkan sekitar 50 tim kewirausahaan mahasiswa, alumni program SUPER, Badan Usaha Milik Masyarakat Adat PT. Yombe Namblong Nggua, LEKAT Papua, serta sejumlah pihak mitra
ECO FEST 4 tahun ini mengusung tema “BUMI KITA: Bangkitkan Usaha Mahasiswa Interkultural – Keberpihakan Inklusif Terhadap Adat.” Tema tersebut menjadi penegasan bahwa pengembangan kewirausahaan di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya diarahkan pada penciptaan produk dan usaha baru, tetapi juga pada upaya membangun kolaborasi yang lebih kuat antara mahasiswa, masyarakat adat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Walaupun kegiatan puncak ECO FEST 4 dilaksanakan dalam satu hari pada 8 September 2026, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program yang telah berlangsung sebelumnya. Rangkaian kegiatan dimulai dari kompetisi proposal kewirausahaan, pelatihan SUPER Batch 5, Demo Day, hingga festival kewirausahaan. Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa mulai dari tahap pengembangan ide bisnis, penyusunan proposal, peningkatan kapasitas, presentasi usaha, hingga memperkenalkan dan memasarkan produk kepada masyarakat.
Melalui rangkaian tersebut, mahasiswa tidak hanya didorong untuk memiliki gagasan usaha, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengembangkan gagasan tersebut menjadi sebuah model bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat sosial. ECO FEST menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk belajar membangun usaha secara nyata, berjejaring dengan mitra, menerima masukan, sekaligus memperkenalkan produk yang telah mereka kembangkan.
Tema BUMI KITA secara khusus menempatkan masyarakat adat sebagai bagian penting dalam ekosistem kewirausahaan mahasiswa. UPA Kewirausahaan UNCEN mendorong agar usaha yang dikembangkan mahasiswa dapat terus bermitra dan bersinergi dengan masyarakat adat, termasuk dengan menggali potensi lokal, pengetahuan tradisional, produk khas, serta sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Badan Usaha Milik Masyarakat Adat PT. Yombe Namblong Nggua turut mengambil bagian dengan memperkenalkan dan menyosialisasikan berbagai unit bisnis yang mereka kelola. Kehadiran badan usaha masyarakat adat ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan potensi kewirausahaan mahasiswa dengan praktik usaha yang berkembang di tengah masyarakat adat.
Salah satu produk yang turut diperkenalkan adalah makanan khas gedi gulung atau swotpun. Kehadiran produk tersebut menunjukkan bahwa kekayaan pangan dan budaya lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan kewirausahaan yang tetap memperhatikan identitas serta nilai-nilai masyarakat adat.
Selain menghadirkan produk dari masyarakat adat, ECO FEST 4 juga menampilkan beragam produk hasil kreativitas mahasiswa. Produk yang dipamerkan tahun ini tidak hanya berasal dari sektor kuliner, tetapi juga menunjukkan inovasi mahasiswa dalam memanfaatkan bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah atau sampah.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah produk paving block berbahan atau berbasis pemanfaatan limbah, di samping berbagai produk kreatif lainnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kewirausahaan mahasiswa mulai berkembang ke arah usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan dan keberlanjutan.
Kegiatan ECO FEST 4 secara resmi dibuka oleh Wakil Rektor II Universitas Cenderawasih, Dr. Ferdinand Risamasu. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi yang ditunjukkan oleh mahasiswa melalui produk-produk yang ditampilkan dalam festival tersebut.
“Produk yang dihasilkan mahasiswa tahun ini cukup unik dan menarik karena tidak hanya kuliner, tetapi juga produk kreasi dari limbah atau sampah seperti paving block dan lainnya,” ujar Dr. Ferdinand Risamasu.
Menurutnya, keberagaman produk yang dihasilkan mahasiswa menunjukkan adanya perkembangan dalam cara mahasiswa melihat peluang usaha. Kewirausahaan tidak lagi hanya dipahami sebagai kegiatan jual beli, tetapi juga sebagai proses menciptakan solusi, memanfaatkan potensi yang ada, dan menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Ia berharap semangat inovasi dan kreativitas tersebut dapat terus dikembangkan oleh mahasiswa sehingga mampu melahirkan wirausahawan muda yang mandiri dan memiliki daya saing. Perguruan tinggi, kata dia, memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang memungkinkan mahasiswa mengembangkan potensi dan gagasan mereka melalui kegiatan kewirausahaan.
Sementara itu, Kurniawan Patma selaku Ketua Penyelenggara ECO FEST 4 menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tahun ini kembali diarahkan untuk mempertemukan kewirausahaan mahasiswa dengan kekuatan dan potensi masyarakat adat. Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu kunci dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih luas.
“Kita kembali mencoba mengkolaborasikan antara kewirausahaan mahasiswa dan adat, book fair, serta job fair,” kata Kurniawan.
Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ECO FEST tidak hanya menjadi ajang pameran produk kewirausahaan mahasiswa. Festival ini juga dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai potensi, mulai dari kewirausahaan, dunia kerja, literasi, masyarakat adat, hingga mitra eksternal.
Kehadiran book fair dan job fair dalam rangkaian kegiatan juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha yang dibangun, tetapi juga diberikan akses untuk mengenal berbagai peluang kerja dan pengembangan kapasitas.
Bagi UPA Kewirausahaan UNCEN, pengembangan kewirausahaan mahasiswa menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan untuk menciptakan peluang, membangun jejaring, berinovasi, dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, konsep indigenous entrepreneurship atau kewirausahaan berbasis masyarakat adat menjadi salah satu gagasan yang terus didorong melalui kegiatan ini. Pendekatan tersebut membuka peluang bagi mahasiswa untuk melihat bahwa nilai-nilai budaya, pengetahuan lokal, sumber daya alam, serta potensi masyarakat adat dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun usaha, sepanjang dikembangkan melalui kemitraan yang menghormati hak, nilai, dan kepentingan masyarakat adat.
ECO FEST 4 diharapkan dapat menjadi ruang kreatif dan kolaboratif bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan keberanian dalam berwirausaha. Tidak hanya menjadi entrepreneur, mahasiswa juga didorong untuk menjadi indigenouspreneur, yakni wirausahawan yang mampu mengembangkan usaha dengan tetap berpijak pada potensi lokal, budaya, lingkungan, dan keberpihakan kepada masyarakat adat.
Dengan mempertemukan mahasiswa, masyarakat adat, alumni, mitra, dan berbagai pemangku kepentingan, ECO FEST 4 diharapkan dapat memperkuat ekosistem kewirausahaan di Universitas Cenderawasih. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk terus membangun kolaborasi yang berkelanjutan sehingga ide dan kreativitas mahasiswa tidak berhenti pada festival, tetapi dapat berkembang menjadi usaha yang nyata, mandiri, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, semangat BUMI KITA diharapkan tidak hanya menjadi tema dalam sebuah festival, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangkitkan usaha mahasiswa yang interkultural, inklusif, inovatif, dan memiliki keberpihakan terhadap adat serta lingkungan. ECO FEST 4 menjadi salah satu langkah UPA Kewirausahaan UNCEN untuk terus menghadirkan ruang bagi mahasiswa agar mampu menciptakan masa depan melalui kreativitas, kolaborasi, dan kewirausahaan


