
Jayapura — Semangat membangun model kewirausahaan yang berpijak pada kekuatan masyarakat adat kembali dihadirkan dalam ECO FEST 4 (Entrepreneurship Collaboration Festival) yang diselenggarakan oleh UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih (UNCEN). Salah satu kolaborasi yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut adalah keterlibatan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) PT Yombe Namblong Nggua, yang membawa gagasan indigenous entrepreneurship sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi yang berakar pada adat dan keberlanjutan lingkungan.
Kehadiran BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dalam ECO FEST 4 bukan sekadar sebagai peserta yang memamerkan produk. Lebih dari itu, kehadirannya menjadi ruang untuk memperkenalkan sebuah perspektif bahwa masyarakat adat memiliki kapasitas untuk mengelola potensi ekonomi dari wilayah adatnya sendiri melalui model usaha yang tidak harus bertumpu pada praktik industri ekstraktif.


Dengan membawa spirit “indigenous entrepreneurship”, BUMMA PT Yombe Namblong Nggua hadir memperkenalkan berbagai potensi dan unit usaha yang dikembangkan, antara lain produk vanili, promosi ekowisata Nggam Bu Ecotourism, produk dari unit perikanan, serta makanan khas masyarakat berupa gedi gulung, dan berbagai produk lainnya.
Produk-produk tersebut menjadi representasi dari potensi ekonomi yang tumbuh dari wilayah dan pengetahuan masyarakat. Vanili, misalnya, tidak hanya dilihat sebagai komoditas yang memiliki nilai jual, tetapi juga sebagai bagian dari potensi pertanian yang dapat dikembangkan melalui tata kelola yang memperhatikan keberlanjutan. Demikian pula dengan ekowisata Nggam Bu yang menawarkan potensi wisata berbasis alam dan pengalaman lokal tanpa harus mengubah alam menjadi sekadar objek eksploitasi ekonomi.
Demikian pula unit perikanan dan makanan khas seperti gedi gulung memperlihatkan bahwa ekonomi masyarakat adat dapat dikembangkan dari berbagai sumber daya yang telah tersedia di lingkungan masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola secara profesional, memiliki nilai tambah, memiliki pasar, dan pada saat yang sama tetap menjaga relasi masyarakat dengan alam dan adat.
Dalam konteks inilah keberadaan BUMMA PT Yombe Namblong Nggua menjadi penting. BUMMA hadir sebagai salah satu instrumen kelembagaan ekonomi masyarakat adat yang berupaya menggerakkan potensi dan sumber daya alam adat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan alam.
BUMMA PT Yombe Namblong Nggua secara konsisten mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat adat melalui berbagai unit usaha dengan prinsip bahwa kesejahteraan tidak harus dibangun melalui eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran. Sebaliknya, kekayaan alam dan budaya dapat dikelola secara produktif dengan tetap mempertahankan keberlanjutan ekologis dan keberadaan masyarakat adat sebagai subjek utama pembangunan.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kritik terhadap model pembangunan yang terlalu lama menempatkan wilayah adat sebagai ruang produksi komoditas, sementara masyarakat adat sering kali hanya ditempatkan sebagai penerima dampak. Dalam perspektif indigenous entrepreneurship, masyarakat adat tidak semestinya hanya menjadi objek dari aktivitas ekonomi, tetapi harus menjadi subjek, pemilik pengetahuan, pengambil keputusan, sekaligus penerima manfaat utama dari pengelolaan potensi wilayahnya.
Karena itu, indigenous entrepreneurship tidak cukup dimaknai sebagai kegiatan bisnis yang kebetulan menggunakan produk atau simbol budaya masyarakat adat. Konsep ini jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana prinsip-prinsip adat, relasi dengan alam, pengetahuan lokal, kepemilikan komunitas, dan kesejahteraan kolektif dapat menjadi fondasi dalam membangun praktik ekonomi.
UNCEN Dorong Ekonomi Bisnis Adat Masuk ke Ruang Akademik
Semangat tersebut kemudian menemukan titik temu dengan upaya Universitas Cenderawasih melalui UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan untuk memperkuat pendidikan dan pengembangan kewirausahaan yang relevan dengan konteks Papua.
Ketua UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan UNCEN, Kurniawan Patma, mengatakan bahwa pengembangan indigenous entrepreneurship membutuhkan dukungan pengetahuan, keterampilan, dan tata kelola bisnis yang kuat. Karena itu, UNCEN melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), khususnya Jurusan Akuntansi, telah membangun kerja sama untuk membuka Kelas Ekonomi Bisnis Adat.
Menurut Kurniawan, kelas tersebut diarahkan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga yang mampu menggerakkan indigenous entrepreneurship, khususnya dengan mempertemukan tiga hal yang selama ini sering dipisahkan, yaitu alam, adat, dan akuntansi.
“UNCEN melalui FEB, khususnya Jurusan Akuntansi, telah bekerja sama untuk membuka kelas ekonomi bisnis adat. Kita ingin memproduksi tenaga-tenaga yang mampu menggerakkan indigenous entrepreneurship, khususnya dalam menyimpul alam, adat, dan akuntansi,” ujar Kurniawan.
Menurutnya, selama ini akuntansi sering kali dipahami secara sempit sebagai ilmu yang berbicara tentang angka, laporan keuangan, laba, dan rugi. Padahal, dalam konteks masyarakat adat Papua, praktik ekonomi membutuhkan pendekatan yang lebih luas.
“Akuntansi harus hadir tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat alam dan adat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus membuka ruang diskusi akademik yang lebih kritis mengenai posisi ilmu ekonomi dan akuntansi dalam pembangunan masyarakat adat. Jika akuntansi hanya digunakan untuk mengukur keuntungan finansial, maka ada banyak nilai yang tidak tercatat: keberlanjutan hutan, kualitas relasi sosial, pengetahuan leluhur, perlindungan wilayah adat, hingga keberlangsungan sumber pangan dan kehidupan generasi berikutnya.
Karena itu, menurut Kurniawan, tantangan pendidikan tinggi bukan hanya menciptakan lulusan yang mampu mengelola laporan keuangan perusahaan, tetapi juga menghasilkan sumber daya manusia yang mampu membaca konteks sosial, budaya, ekologis, dan ekonomi secara bersamaan.
“Kalau kita berbicara tentang bisnis adat, maka kita tidak bisa hanya menghitung berapa keuntungan yang diperoleh. Kita juga harus bertanya, apa yang terjadi dengan alam setelah kegiatan ekonomi dilakukan? Apa yang terjadi dengan adat? Siapa yang memiliki usaha? Siapa yang mendapatkan manfaat? Dan bagaimana usaha tersebut bisa diwariskan kepada generasi berikutnya?” ujarnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena model ekonomi masyarakat adat memiliki karakter yang berbeda dengan pendekatan ekonomi konvensional. Alam tidak selalu diposisikan semata-mata sebagai komoditas. Tanah, hutan, sungai, laut, dan berbagai sumber daya alam memiliki hubungan yang erat dengan identitas, sejarah, kehidupan sosial, dan keberlangsungan komunitas adat.
Dalam kerangka tersebut, pendidikan tentang ekonomi bisnis adat perlu menghasilkan paradigma baru. Mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana membuat usaha menjadi profitable, tetapi juga bagaimana memastikan usaha tersebut legitimate secara adat, sustainable secara ekologis, dan accountable secara ekonomi.
Dari Festival Menuju Ekosistem Kewirausahaan Adat
Kolaborasi BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dengan UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan UNCEN dalam ECO FEST 4 menjadi salah satu contoh bagaimana ruang akademik dan praktik ekonomi masyarakat dapat dipertemukan.

ECO FEST tidak hanya menjadi tempat mahasiswa memamerkan produk, tetapi juga menjadi ruang belajar bahwa kewirausahaan dapat dibangun dari realitas sosial dan kekayaan lokal Papua. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat adat mengembangkan usaha, bagaimana potensi lokal diidentifikasi, bagaimana produk dikembangkan, dan bagaimana bisnis dapat dijalankan dengan tetap mempertimbangkan keberlanjutan alam serta kepentingan komunitas.
Kehadiran BUMMA PT Yombe Namblong Nggua memberikan perspektif penting bagi mahasiswa bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Banyak peluang ekonomi justru berada di sekitar masyarakat, dalam bentuk pengetahuan lokal, pangan tradisional, hasil pertanian, perikanan, wisata berbasis alam, hingga berbagai potensi yang selama ini belum dikelola secara optimal.
Namun, pengembangan potensi tersebut juga membutuhkan kehati-hatian. Jangan sampai istilah indigenous entrepreneurship justru berakhir pada komersialisasi budaya tanpa memberikan manfaat yang adil kepada masyarakat adat. Karena itu, profesionalisme bisnis harus berjalan bersama dengan etika, keberpihakan, dan penghormatan terhadap hak masyarakat adat.
Dalam konteks tersebut, kerja sama antara perguruan tinggi dan BUMMA memiliki posisi strategis. Perguruan tinggi dapat menyediakan pengetahuan, riset, penguatan kapasitas, tata kelola, dan inovasi. Sementara masyarakat adat membawa pengetahuan lokal, pengalaman, sumber daya, nilai budaya, dan pemahaman terhadap wilayahnya.
Keduanya dapat bertemu dalam sebuah ekosistem yang tidak menempatkan pengetahuan akademik lebih tinggi daripada pengetahuan adat, tetapi justru mencari titik temu untuk menghasilkan model ekonomi yang relevan bagi Papua.
Kurniawan menegaskan bahwa gagasan tersebut harus terus dikembangkan agar indigenous entrepreneurship tidak berhenti menjadi jargon dalam forum atau festival.
“Semangat kita adalah bagaimana kewirausahaan mahasiswa dan masyarakat adat dapat saling belajar dan saling menguatkan. Kita ingin agar mahasiswa UNCEN tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta usaha yang memahami konteks Papua dan memiliki keberpihakan kepada masyarakat adat,” katanya.
Melalui pembukaan Kelas Ekonomi Bisnis Adat dan kolaborasi dengan BUMMA, UNCEN diharapkan dapat mengambil peran lebih jauh dalam membangun generasi muda yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, membumikan indigenous entrepreneurship bukan sekadar persoalan bagaimana menjadikan potensi adat sebagai produk yang laku di pasar. Lebih jauh, ia merupakan upaya membangun kembali hubungan antara ekonomi, manusia, alam, dan adat dalam sebuah tata kelola yang lebih adil dan berkelanjutan.
ECO FEST 4 menjadi salah satu ruang awal untuk mempertemukan gagasan tersebut. Dari festival, kolaborasi diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih konkret melalui pendidikan, riset, pengembangan unit usaha, pendampingan masyarakat, hingga lahirnya wirausahawan muda yang mampu membawa semangat ekonomi Papua yang berakar pada adat dan keberlanjutan.
Dengan demikian, indigenous entrepreneurship bukan sekadar pilihan model bisnis, tetapi dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membangun kesejahteraan masyarakat adat tanpa harus mengorbankan alam dan identitas budaya yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.
